
Membawa pulang bayi yang baru lahir (newborn) ke rumah membawa kebahagiaan luar biasa, sekaligus deretan tanggung jawab baru bagi Ayah dan Bunda. Bagi orang tua baru, salah satu tugas perawatan harian yang paling sering memicu rasa tegang atau takut salah langkah adalah merawat tali pusat bayi yang belum lepas (puput).
Bentuknya yang masih basah dan tampak rapuh tidak jarang membuat orang tua merasa ngeri saat harus menyentuh atau membersihkannya. Ditambah lagi, banyaknya mitos di masyarakat—seperti menaburkan kopi, menempelkan koin, atau memberi minyak-minyakan tertentu—sering kali justru membingungkan dan membahayakan kesehatan si kecil.
Padahal, merawat tali pusat sebenarnya sangat simpel jika kita tahu prinsip dasarnya secara medis. Yuk, simak panduan aman cara membersihkan tali pusat bayi baru lahir agar cepat puput dan terhindar dari risiko infeksi berikut ini!
Prinsip Utama Medis: Bersih dan Kering (Dry Care)
Dunia medis modern, termasuk Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), saat ini sangat merekomendasikan metode perawatan kering (dry care) untuk tali pusat bayi. Prinsip utamanya adalah menjaga area sekitar tali pusat tetap bersih, terhindar dari zat asing, dan dibiarkan terbuka atau kering agar sisa jaringan tersebut lekas menyusut, mengeras, dan terlepas secara alami.
Proses puputnya tali pusat ini biasanya memakan waktu antara 1 hingga 3 minggu setelah bayi dilahirkan.
Langkah demi Langkah Cara Aman Merawat Tali Pusat
Agar tidak salah langkah, Ayah dan Bunda bisa mempraktikkan panduan harian berikut ini saat merawat si kecil di rumah:
1. Selalu Cuci Tangan Terlebih Dahulu
Sebelum menyentuh area perut dan tali pusat bayi, pastikan Ayah atau Bunda sudah mencuci tangan menggunakan sabun di bawah air mengalir hingga benar-benar bersih. Langkah awal ini sangat krusial untuk mencegah perpindahan kuman atau bakteri dari tangan orang dewasa ke tubuh bayi.
2. Bersihkan Secara Lembut Saat Mandi
Tali pusat bayi sebenarnya boleh terkena air saat mandi. Bersihkan area pangkal tali pusat secara lembut menggunakan air bersih hangat. Jika area tersebut tidak sengaja terkena sisa air sabun mandi bayi, cukup bilas dengan air bersih hingga tidak ada busa yang tertinggal. Hindari menggosok atau menarik tali pusat secara paksa.
3. Keringkan Secara Sempurna
Setelah mandi, segera keringkan tali pusat dan area kulit di sekitarnya menggunakan handuk berbahan lembut, tisu bersih, atau kasa steril dengan cara ditepuk-tepuk perlahan. Pastikan tidak ada kelembapan yang tersisa, karena area yang lembap adalah tempat favorit bagi bakteri untuk berkembang biak.
4. Perhatikan Cara Memasang Popok
Saat memakaikan popok (baik popok kain maupun popok sekali pakai), pastikan untuk melipat bagian depan popok ke arah bawah, sehingga berada di bawah garis tali pusat. Jangan pernah menutup tali pusat dengan popok. Cara ini bertujuan untuk mencegah tali pusat bergesekan dengan popok, serta melindunginya agar tidak terkena rembesan air kencing atau kotoran bayi.
5. Biarkan Terbuka Tanpa Ramuan Apa pun
Jangan pernah membubuhkan bedak, minyak telon, alkohol, betadine, atau ramuan tradisional apa pun pada tali pusat bayi kecuali atas resep dokter. Biarkan tali pusat terbuka tanpa perlu dibungkus ketat oleh kasa. Jika ingin membungkusnya agar tidak terkena gesekan baju, gunakan kasa steril yang dibalut secara longgar (tidak mengikat).
Tanda-Tanda Infeksi Tali Pusat yang Wajib Diwaspadai
Meskipun sebagian besar proses puput berjalan lancar, Ayah dan Bunda harus segera membawa si kecil ke dokter spesialis anak jika menemui gejala infeksi (omphalitis) berikut ini:
- Kulit di sekitar pangkal tali pusat tampak memerah dan bengkak.
- Tali pusat mengeluarkan cairan bening, nanah, atau darah secara terus-menerus.
- Tercium aroma bau busuk atau tidak sedap dari area tali pusat.
- Bayi menangis histeris atau tampak kesakitan saat area perut di sekitar tali pusat disentuh lembut.
- Si kecil mengalami demam atau mendadak malas menyusu.
Rawat Si Kecil dengan Tenang, Urusan Syukuran Serahkan pada Aqiqah86
Minggu-minggu pertama merawat bayi newborn adalah fase yang sangat padat dan menguras energi. Fokus Ayah dan Bunda sebaiknya dicurahkan sepenuhnya untuk memantau kesehatan si kecil, membangun kedekatan (bonding), serta memulihkan kondisi fisik Bunda pascamelahirkan.
Jangan biarkan energi Anda yang berharga habis terkuras karena harus mengurus operasional dapur untuk acara syukuran keluarga. Salah satu momentum penting yang dianjurkan untuk dilaksanakan pada hari ke-7 setelah kelahiran adalah ibadah aqiqah anak. Agar Ayah dan Bunda bisa melewati masa-masa awal parenting ini dengan rileks tanpa drama kelelahan di dapur, delegasikan urusan katering syukuran buah hati Anda kepada Aqiqah86.
Sebagai penyedia layanan jasa aqiqah profesional terima beres, kami siap meringankan beban domestik Anda dengan standar pelayanan yang syar'i dan higienis:
- 100% Syar'i & Amanah: Hewan dipilih yang sehat dan sesuai ketentuan fikih Islam. Proses penyembelihan dilakukan di RPH mandiri kami, lengkap dengan fasilitas Dokumentasi Real-Time (foto & video proses pemotongan dikirim langsung ke WhatsApp Anda beriringan dengan dibacakannya nama buah hati Anda saat doa sembelih).
- Citarasa Kualitas Resto Bintang 5: Semua hidangan daging kambing diolah secara higienis oleh tim koki berpengalaman sehingga menghasilkan tekstur yang empuk, bumbu meresap kaya rempah, dan 100% dijamin anti prengus.
- Kemasan Nasi Box Premium yang Rapi: Dikemas dalam kotak hantaran yang mewah, rapi, dan kokoh, sehingga sangat praktis untuk langsung dibagikan ke tetangga maupun kerabat tanpa perlu membuat dapur rumah Anda berantakan.
Didukung oleh jaringan 7 cabang resmi, Aqiqah86 siap mengantarkan hantaran syukuran Anda secara tepat waktu dengan paket lengkap mulai dari harga hemat 2 jutaan saja, lengkap dengan fasilitas Gratis Ongkir langsung ke depan pintu rumah!
Yuk, nikmati momen merawat si kecil dengan penuh ketenangan dan kedamaian.
Konsultasikan pilihan paket menu aqiqah Anda bersama tim CS kami yang ramah dan klaim Promo Combo Deal Khusus Bulan Ini sekarang juga!
(Hubungi CS Kami - Layanan Ramah, Amanah & Fast Response)
Penulis : Diyana Safitri





